Mengisi Waktu dengan Belajar Menulis

Saat saya merindukan almarhumah ibu, saya mencoba membuat puisi yang lebih tepat disebut sebagai ungkapan hati…

Saat Itu

Saat itu
Saat aku menekuni bau bumi yang dihujam nestapa dari langit
Saat itulah aku merindumu

Saat itu
Saat bebayang masa lalu melebur dalam
Roda ingatan dan menjelma kenangan
Akan rangkulanmu dalam sedu dan sedan
Saat itulah aku merindumu

Saat itu
Saat bara api memercikkan kehangatan
Suasana akan aku dan engkau
Kemudian terpola candaan hati yang
Melukis suka dan cita
Saat itulah amku merindumu

Merindumu, seperti merindukan setiap detik masa depan

Jangan Buat Hidupmu Menjadi Dilematis

Suatu hari, saya mengobrol dengan seorang teman melalui facebook. Dia baru saja membuat status tentang kegalauannya sebagai seorang ibu. Antara memilih tetap bekerja, tapi kehilangan waktu bersama anak yang tidak akan pernah terulang lagi, atau berhenti bekerja namun kehilangan penghasilan yang menurutnya lumayan.

Saya pun pernah mengalaminya. Dulu, sebelum saya hamil. Namun saya dan suami memantapkan hati, dan inilah yang saya jalani saat ini, menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Rasanya mungkin tak adil, mengapa mengorbankan waktu belajar di bangku kuliah dan “hanya” menjadi ibu rumah tangga, pekerjaan mulia namun dipandang sebelah mata saja. Akan tetapi semua terbayar. Saya lah orang pertama yang mendengar dia menyebut mama, papa, pipis, dll. Saya lah orang pertama yang melihatnya tengkurap, merangkak, duduk, bertepuk tangan, berjalan selangkah, dua langkah, dan akhirnya berlari. Saya, saya orang pertama yang melihat air mata merembes di pipinya untuk pertama kali. Saya juga orangnya, yang paling tau perkembangan penglihatannya, perubahan bola matanya sejak ia berhasil membuka mata, hingga pupil yang mengecil hari demi hari.

Mahal sekali, dan tidak ada yang mampu membeli rasa puas itu. Seorang teman pernah mengatakan, “Kita bisa membayar orang untuk menjaga anak kita, tapi kita tidak bisa membayar orang untuk benar-benar menyayangi anak kita.”

Saya sempat iri ketika membaca status teman-teman facebook yang sibuk dengan pekerjaannya. Tapi itu dulu, saat anak saya masih bayi, banyak tidur, dan belum bisa diajak bercanda. Sekarang, justru 24 jam sehari rasanya sangat kurang. Makanya saya bilang pada teman saya itu, “waktu terasa lama itu kalo kamu di rumah aja dan nggak punya anak,” ketika dia mengungkapkan alasannya tetap bingung antara mau berhenti kerja atau tetap berkarir. Takut bosan di rumah?? Wow, harus dipertanyakan, apa saja yang kamu kerjakan bersama anakmu ketika libur?

Saya jadi teringat ketika suatu hari dalam perjalanan menuju Solo, seorang ibu Tionghoa menceritakan pengalamannya mengasuh dua orang anaknya. “Aku nggak pernah pake babysitter lho,” kata beliau. Beliau ternyata juga membuat makanan untuk anaknya sendiri, tidak pernah memberi anaknya bubur instan yang banyak di pasaran. “Lebih sehat dan jauh lebih irit,” ungkapnya.

Obrolan berlanjut hingga soal pendidikan anaknya. Anaknya yang pertama perempuan, masih SMA di Jogja. Kata si ibu, anaknya tertarik pada musik dan bahasa. “Aku udah arahkan dia mau kemana nanti kalo lulus. Kalo dia mau serius di musik, ya belajar piano aja lah. Soalnya kalo gitar kan udah banyak yang bisa, lagipula kalo piano kan konsernya keren, mesti pake tiket, jadi kelihatan elegan gitu lho. Tapi dia nggak mau, dia sukanya main gitar. Kalo mau bahasa, ya udah tak suruh belajar bahasa mandarin aja, kan ke depannya bagus, lebih menjual daripada Sastra apalah, Jerman lah, Perancis lah. Kalo mau tu maksudku tak suruh ambil dua jurusan sekaligus. Kuliah di China sekalian, disana belajar bahasa sama ilmu pengobatan. Uang si gampang. Nanti minta disponsori aja sama S*do M*nc*l, pasti mau lah. Eee, dianya yang nggak mau. ‘Mosok aku disuruh jadi tukang jamu’ katanya. Yowis, apa mau di Perhotelan, kamu belajar masak yang bener, banyak praktek, nanti kamu bikin restoran, aku bilang gitu. Malah bapaknya yang nggak setuju. Yowis lah.” Cerita beliau, panjang.

“Tapi aku udah wanti-wanti sama anakku yang perempuan itu. Kamu itu perempuan, kubilang, kamu harus perhitungkan masa kerjamu mau sampe kapan. Kenapa? Karena kamu nantinya bakal punya anak, bakal ngurus rumah tangga. JANGAN SAMPE HIDUPMU DILEMATIS karena bingung mau kerja atau ngurus anak. Hidup itu harus punya target, mau kerja cari uang sampe kapan, terus kapan harusnya uang datang sendiri ke kantongmu?”

Subhanallah, sangat realistis bukan? Pemikiran beliau benar-benar membuka mata saya bahwa rezeki pun bisa didatangkan dari rumah. Kuncinya cuma dua, Allah ridho, dan kita terus berusaha. Banyak jalan koq, asal kita mau melihat keluar.

*BahagiaBerkarirDiRumah

(ini pendapatku, apa pendapatmu? :))